KH As’ad Humam: Sang Penerang dari Kampung Karangkajen

Di jantung Yogyakarta, tepatnya di Kampung Karangkajen, pernah hidup seorang ulama yang cahaya ilmunya menembus batas zaman. Dialah KH As’ad Humam, sosok bersahaja namun berjiwa besar, seorang penggerak dakwah yang menyalakan api cinta Al-Qur’an di seluruh penjuru Nusantara. Di tangannya lahir sebuah metode yang menjadi revolusi dalam pendidikan Islam: Metode Iqra’, cara mudah dan cepat membaca Al-Qur’an yang kini diwarisi jutaan santri dari Sabang sampai Merauke.


Sumber Gambar: Goodnews From Indonesia


Sejak muda, As’ad Humam tumbuh dalam keluarga religius yang berakar kuat di dunia pesantren. Suasana rumahnya tak pernah sepi dari lantunan ayat suci. Namun dalam kesyahduan itu, hatinya sering terusik. Ia menyaksikan banyak anak Muslim yang kesulitan membaca Al-Qur’an karena metode pembelajaran yang masih kuno dan sulit dipahami. Dari kegelisahan itulah lahir tekad untuk memperbaharui cara umat mengenal huruf-huruf Ilahi, dengan cara yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan zaman.


Dialah KH As’ad Humam, sosok bersahaja namun berjiwa besar, seorang penggerak dakwah yang menyalakan api cinta Al-Qur’an di seluruh penjuru Nusantara.


Sebagai seorang yang aktif dalam Muhammadiyah, KH As’ad Humam dikenal bukan hanya sebagai guru mengaji, tetapi juga penggerak pendidikan Islam modern. Ia pernah menjadi bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dan turut membidani lahirnya Tim Tadarus AMM, yang menjadi cikal bakal gerakan Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Dalam lingkungan Muhammadiyah, beliau dikenal sebagai sosok yang membumi, sabar, dan inovatif. Ia sering hadir dalam kegiatan dakwah, pembinaan guru ngaji, dan pelatihan kader Qur’ani yang diadakan oleh Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Qur’an (LPPQ) bentukan Muhammadiyah. Semangat tajdid pembaharuan yang menjadi napas Muhammadiyah hidup dalam darahnya.


Baca Juga : Susunan Pengurus Badko TKA-TPA Kabupaten Sleman


Pada awal tahun 1980-an, bersama rekan-rekan muda Muhammadiyah di Yogyakarta, As’ad mendirikan TKA dan TPA Al-Falah Karangkajen, sebuah laboratorium pendidikan Al-Qur’an yang menjadi ladang lahirnya metode Iqra’. Ia tidak bekerja sendirian, melainkan bergandeng tangan dengan tokoh-tokoh muda seperti H. Mansur, H. Zarkasyi, dan para aktivis masjid di bawah bendera AMM. Dari pertemuan kecil di serambi masjid, lahirlah gagasan besar: menciptakan metode membaca Al-Qur’an yang efisien, langsung mengenal huruf dan bunyi, tanpa mengeja seperti dulu. Maka, setelah bertahun-tahun penelitian, lahirlah enam jilid Iqra’, sebuah karya yang kemudian mengubah wajah pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia.


Metode Iqra’ tak lama kemudian menyebar ke berbagai daerah. Lembaga-lembaga Muhammadiyah, pesantren, dan masjid-masjid rakyat mulai mengadopsinya. Dukungan LPTQ dan Departemen Agama mempercepat penyebaran itu. Dalam waktu singkat, Iqra’ menjadi simbol keberhasilan dakwah berbasis inovasi dan ilmu. Di balik kesederhanaan lembaran-lembarannya, tersimpan semangat tajdid Muhammadiyah menyebarkan Islam dengan cara rasional, efektif, dan bersahabat. KH As’ad Humam menjadi teladan nyata bahwa pembaharuan tak harus lahir dari mimbar besar, melainkan dari hati yang tulus dan niat yang lurus.


Baca Juga : Variasi Tepuk untuk Santri TKA-TPA


Meski karyanya mendunia, As’ad tetap hidup dengan penuh kesederhanaan. Ia menolak hak cipta atas Iqra’, menolak royalti, bahkan tidak mencantumkan namanya secara menonjol. “Biarlah umat membaca Al-Qur’an, itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar saya,” ujarnya suatu ketika. Sikap ini selaras dengan etos ikhlas dalam dakwah Muhammadiyah: bekerja tanpa pamrih demi kemaslahatan umat. Ia lebih suka duduk di serambi masjid, membimbing anak-anak kecil mengeja huruf hijaiyah, ketimbang tampil di depan panggung kehormatan.


KH As’ad Humam wafat pada tahun 1995, tetapi semangatnya tetap hidup di setiap rumah dan masjid tempat Iqra’ dibacakan. Namanya diabadikan dalam banyak lembaga pendidikan, dan setiap jilid Iqra’ yang dibuka menjadi doa yang terus mengalir untuknya. Ia adalah potret ideal seorang kader Muhammadiyah berpikir maju, berjiwa sosial, dan beramal tanpa pamrih. Dari Karangkajen, Yogyakarta, sinar keikhlasannya menjelma menjadi cahaya yang tak pernah padam: cahaya ilmu, cahaya dakwah, dan cahaya Al-Qur’an yang menerangi hati umat Islam hingga kini. [red]

Lebih baru Lebih lama